Minggu, 12 Februari 2012

Bisakah Internet Dimusnahkan di Dunia?

Headline
ISTINILAH.COM, Jakarta – UU anti pembajakan SOPA (Stop Online Piracy Act) dan PIPA (Protect Intelectual Property Act) di Amerika Serikat (AS) sempat membuat geger. Sebenarnya, bisakah internet dihancurkan?
UU tersebut mencari cara untuk mengakhiri kebebasan internet. Meski begitu, Internet tampaknya ditakdirkan untuk bertahan hidup dalam beberapa bentuk. Para ahli mengingatkan, banyak ancaman pada keberadaan status quo-nya, dan ada banyak pula yang bisa menghancurkan atau menghilangkannya.
Raksasa besar bernama internet bisa terus muncul. Secara fisik, internet telah tumbuh dan bertahan dari bom, kebakaran atau bencana alam. “Internet sangat saling berhubungan,” kata ilmuwan komputer David Clark di MIT yang merupakan pemimpin pengembangan Internet selama 1970-an.
Misalnya, pada kejadian 9/11, kehancuran membuat layanan terganggu secara lokal namun layanan ini kembali online 15 menit kemudian dan hal ini merupakan protokol bawaan pengguna.
Meski pada dasarnya mustahil melumpuhkan konektivitas internal di suatu negara, Clark mengaku bukan hal mustahil bagi satu negara memblokir akses Internet melalui pemutusan kabel aktual yang membawa data Internet antara dua negara.
Seperti diketahui, benua-benua di dunia terhubung kabel serat optik ribuan kilometer yang berada di bawah laut. Jika ada orang yang meledakkan salah satu hub, koneksi internet antara dua benua akan sangat terhambat hingga infrastrukturnya diperbaiki. “Langkah ini akan menjadi tindakan perang cyber,” kata Clark.
Tak hanya itu, gangguan ekstrim konektivitas internasional tak akan mengancam kelangsungan konten internet secara serius. Selanjutnya, menurut ekonom MIT William Lehr yang mempelajari ekonomi dan kebijakan peraturan infrastruktur internet industri, pusat-pusat data perusahaan tempat konten Web memiliki cara canggih membuat cadangan dan menyimpan data di banyak tempat.
Rencana penyimpanan yang beragam ini membuat konten lebih aman serta menawarkan perlindungan pada kehilangan akses kepada salinan salah satu data pada saat terjadi perang cyber.
Redundansi konten online begitu banyak dan rute konektivitasnya membuat Internet tahan terhadap serangan fisik namun pada ancaman yang jauh lebih serius pada keberadaan status quo-nya malah berasal dari peraturan pemerintah seperti aturan sensor.
Di awal gelombang revolusi Arab, pemerintah Husni Mubarak berusaha mematikan internet di negara itu untuk melumpuhkan koordinasi para demonstran. Negara ini melakukannya melalui peringtah kepada Internet Service Provider (ISP) untuk menghentikan layanannya.
“ISP memiliki kontrol langsung pada Internet dan apa yang terjadi di negara manapun tergantung pada kontrol yang dimiliki negara itu pada ISP,” kata Clark. Beberapa negara mengatur ISP jauh lebih ketat seperti saat China ‘mematikan’ internet di berbagai daerah, katanya.
Di Mesir saat gelombang revolusi terjadi, banyak pemrotes menemukan cara mengakalinya, yakni menggunakan smartphone untuk berkomunikasi dengan internet global.
Jika di masa depan pemerintah AS berusaha menutup atau membatasi akses internet, para pengguna internet juga akan makin canggih seiring metode regulasi yang makin ekstrem dan Lehr menyebutnya ‘perlombaan senjata’.
“Alat untuk memerangi perang ini kebanyakan defensif (firewall, mematikan interkoneksi, pemantauan, mengunci orang-orang yang melanggar ‘hukum’) namun juga bisa ofensif (melalui serangan virus atau mengunci orang itu sendiri),” paparnya.
Pemerintah juga bisa memberi pajak pada akses Internet atau penyedia bisa menaikkan harga layanannya hingga pengguna tak mampu lagi membayarnya. Lehr menambahkan, meski tak ada pemerintahan tunggal yang bisa menghancurkan Internet, pemerintah tetap bisa melumpuhkannya dengan membuat penggunaannya tak menarik bagi orang-orang.
Selain itu, regulasi yang buruk, baik di suatu negara atau skala internasional, juga bisa menghambat nilai Internet dan kemampuannya tumbuh, ungkap Lehr. Sementara Internet akan terus ada selama manusia ada, hal yang nantinya hilang atau berkurang hanyalah ‘keterbukaan internet’.
Keterbukaan ini sendiri berguna secara ekonomi dan sosial namun juga merupakan sumber masalah, kata Lehr. Pasalnya, ada banyak ancaman disini seperti serangan privasi, junk mail, virus, malware dan lainnya.

sumber:inilah.com